Rabu, 18 Oktober 2017

WALI PAIDI 5-8

(Pengarang : tidak tahu, diambil dari bloq ekapitano)

Sesampainya dirumah sehabis dari gunung arjuna, wali paidi menjalankan aktifitas sebagaimana biasanya, tiap pagi wali paidi pergi kepasar berjualan minyak wangi, orang2 dipasar dan dirumahnya biasa memangilnya kang paidi tukang minyak, sekitar jam 1 siang wali paidi ini menutup tokonya dan pulang,
setelah sholat ashar sehabis istirahat siang wali paidi mengajari anak2 kecil dilanggarnya belajar membaca al qur'an sampai waktu magrib, dulu dilanggar wali paidi yg sederhana ini ramai sekali dipenuhi anak2 kecil yg belajar mengaji, tapi setelah ada sistem iqro' dan qirati, langgar wali paidi ini sepi, anak2 pada pindah ke TPQ2 yg memang banyak tersebar dikampungnya wali paidi ini,
wali paidi sebenarnya juga ikut pelatihan metode iqro maupun qiroati yg diwajibkan kepada seluruh guru TPQ guna mendapatkan syahadah (semacam ijazah), tapi wali paidi tidak lulus dlm pelatihan ini krn seringnya wali paidi merokok dan bawa kopi di dalam kelas. jadinya di langgar wali paidi ini metode yg digunakan tetap memakai metode lama yaitu metode bagdadi, krn bagi guru TPQ yg tdk pny syahadah tdk boleh mengajar dg memakai metode iqro maupun qiroati dan lama kelamaan murid2 wali paidi habis tinggal 5 anak saja yg tetap mengaji di langgarnya wali paidi, orang tua dari kelima murid wali paidi ini tetap mempercayakan anaknya ke wali paidi ini di sebabkan masalah ekonomi, mereka adalah orang2 miskin yg tidak mampu membelikan seragam TPQ dan buku terhadap anak mereka, daripada tidak mengaji mereka tetap menitipkan anak2nya kpd wali paidi, krn dilanggar wali paidi ini tidak ada tarikan uang, mereka bebas dari biaya apapun, malah mereka sering dikasih uang jajan oleh wali paidi ini.
menjelang magrib datanglah seorang pemuda yg kira2 berumur 35 tahun mencari wali paidi, pemuda ini adalah seorang murid thoriqoh yg disuruh gurunya mencari wali paidi.
" nak carilah kiai didaerah ini namanya ali firdaus tapi orang2 dikampungnya biasa memanggil dg sebutan paidi ( orang yg memberi faedah ), umurnya seumuran dg mu, dan hanya beliau satu2nya yg bernama paidi di kampung itu, kalau kamu ktmu dengannya sampaikan salamku dan mintalah nasehat padanya" begitulah yg dikatakan guru pemuda ini kepadanya,
waktu itu pemuda ini disuruh mencari wali paidi karena seringnya pemuda ini mengalami hal2 aneh, seperti ketika sholat, tiba2 ia sudah berada di makkah dan sholat dihadapan ka'bah, dan banyak orang yg melihatnya sholat di atas daun padahal dia ada dirumah, pemuda ini akhirnya sowan kepada gurunya dan melaporkan semua kejadian yg dialaminya, dan disuruh mencari kiai ali atau kiai paidi.
sesampai dikampung yg dimaksud, pemuda ini bertanya2 kpd orang2 dimanakah rumah kiai paidi.
" disini tidak ada yg namanya kiai paidi, yg ada kang paidi seorang penjual minyak wangi..
" begitu jawab orang kampung ketika ditanya pemuda ini
" baiklah, dimana rumah kang paidi penjual minyak wangi itu " tanya pemuda ini,
pemuda ini yakin bahwa kang paidi itulah kiai paidi yg dicarinya krn gurunya jg bilang bahwa nama paidi hanya satu orang dikampung ini.
pas waktu magrib pemuda ini sampai dirumah wali paidi, pemuda ini bertanya kepada seorang wanita yg berada didepan rumah wali paidi
" apakah benar ini rumah kang paidi penjualminyak wangi "
" benar nak, dia ada dilanggar itu, sedang ngimami sholat magrib " jawab wanita itu sambil menunjukkan langgar yg berada disebelah rumah wali paidi
" terima kasih bu.." jawab pemuda ini sambil menuju ke langgar guna sholat magrib dan sekalian sowan kpd kiai paidi.
sehabis wudlu pemuda ini masuk ke langgar sholat berjamaah bersama yg lain, dilihatnya yg sholat dilanggar ini cuma 3 orang, di berdiri disamping mereka, ketika pemuda ini mendengar surat alfatihah yg dibaca wali paidi, hati pemuda ini menjadi galau krn wali paidi ini ketika membaca huruf "ain" menjadi "ngg" , robbil 'alamin menjadi robbil ngalamin.....
" gimana mau khusu' dan diterima sholatnya wong bacanya aja udah keliru, apakah tidak salah gurunya menyuruhnya sowan kepadanya " gumam pemuda ini dlm hati..
setelah salam dan melakukan wirid seperti biasa pada umumnya, wali paidi ini melanjutkan dg sholat sunnah dan sehabis sholat sunnah wali paidi ini keluar dari langgar dan duduk2 diteras sambil merokok...
pemuda ini menghadap kepada wali paidi
" assalamu'aaikum..." salam pemuda ini
" wa ngalaikum salam..." jawab wali paidi sambil tersenyum
setelah menyampaikan salam gurunya kepada kiai paidi, pemuda ini menceritakan maksud kedatangannya dan menceritakan hal2 aneh yg dialaminya kpd wali paidi.
" hmm...saya jg heran, kok km sampai bisa seperti itu yah...mengalami hal2 yg menakjubkan padahal sholat kamu tadi aja masih sibuk ngurusi tajwid daripada ingat kepada Allah..." kata wali paidi kepada pemuda ini
seketika pucatlah wajah pemuda ini, dan dalam hati pemuda ini berkata :
" masya Allah...ternyata gurunya tidak salah mengenai kiai muda ini " pemuda ini semakin menundukkan kepalanya dihadapan wali paidi ini...
WALI PAIDI 6
Pemuda santri thoriqot ini hanya diam , tidak berani berkata banyak didepan wali paidi, suasana jadi hening, hanya terdengar suara wali paidi yg menghisap rokoknya,
“monggo kopine kang, dan ini rokoknya “wali paidi menawarkan kopi dan rokok dji sam soenya
“iya terimakasih...” setelah menyeruput kopinya pemuda ini mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya 
“gimana khabarnya mas kiai mursyid “tanya wali paidi 
“alhamdulillah baik-baik saja “jawab pemuda ini
“nanti sehabis sholat isya’ kamu dzikir aja di musholla sini, kalau nanti kamu tiba2 berada di tempat yg asing , kamu baca la haula wala quwwata illa billah 3x “pesan wali paidi 
“iya , mas paidi “jawab pemuda ini
Tidak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang, menunjukkan kalau waktu sholat isya’ telah tiba, tampak 3 orang yg tadi sholat magrib telah datang, setelah berwudlu mereka bertiga masuk ke musholla menunggu wali paidi. Wali paidi berdiri masuk ke dalam musholla dan mempersilahkan pemuda thoriqot ini untuk ngimami sholat isya’, tapi pemuda ini tidak mau,
Wali paidi akhirnya maju dan dimulailah sholat isya’ berjamaah, Pemuda thorqot ini sholat tepatdibelakang wali paidi, jadi pemuda ini dapat mendengar dg jelas suara wali paidi, tapi pemuda ini tidak mau mengulangi kesalahnnya diwaktu sholat magrib tadi, sambil membaca fatihah pemuda ini mulai mengajak hatinya berdzikir Allah...Allah...Allah...
Pemuda ini mulai merasakan ketenangan dalam sholatnya, suara hiruk pikuk disekitar musholla mulai hilang, suasana menjadi hening yg terdengar hanya suara wali paidi dan suara hatinya yg berdzikir, lama kelamaan suara wali paidi yg tadinya cemplang dan terdengar tidak bertajwid berubah menjadi sangat merdu dan sangat fasih, suara dan bacaan wali paidi bagaikan suara dan bacaan imam masjidil haram, setelah mendengar salam barulah pemuda ini seakan tersadar kembali lagi kedunia. 
Setelah membaca wirid seperti pada umumnya wali paidi mundur, melaksanakan sholat sunnah dua rokaat, setelah sholat wali paidi mendekati pemuda thoriqot ini 
“sampeyan disini aja , dan mualilah berdzikir seperti yg sampeyan lakukan “kata wali paidi 
“iya mas paidi “jawab pemuda ini singkat 
“ingat pesan saya tadi “kata wali paidi lagi
Pemuda ini menggangguk, setelah ke tiga orang yg ikut jamaah tadi keluar, wali paidi berdiri mematikan lampu musholla dan ikut keluar, tinggallah pemuda ini sendirian di dalam musholla. Pemuda thoriqot ini lalu duduk bersila, dan memulai membaca fatihah, tawasul kepada kanjeng nabi muhammad dan diteruskan tawasul kepada guru2nya, setelahnya barulah pemuda ini mulai membaca wirid yg selama ini selalu istiqomah ia baca, lama kelamaan suasana mulai berubah, angin yg tadinya menghembus sepoi2 berubah menjadi kencang, satu persatu benda-benda yg berada didalam musholla mulai hilang satu persatu, bahkan dirinya juga terasa ikut hilang, beriringan dg hilangnya tubuh pemuda ini, tampak di pengimaman ada cahaya putih yg kecil, hanya cahaya ini yg tampak karena semuanya telah hilang dalam pandangan mata pemuda ini, dan dg sayup2 mulailah terdengar suara orang yg berlalu-lanang membaca ta’bir dan tahmid,
cahaya yg tadinya kecil mulai membesar dan teranglah seluruhnya, dan tampaklah dg jelas didepan pemuda ini bangunan segi empat yg tertutup kain hitam yg disekelilingnya terlihat banyak orang yg berjalan mengitarinya, masya Allah ternyata pemuda ini telah berada di makkah , didalam masjidil haram 
Pemuda ini membathin, benarkah aku ini sekarang berada dimasijid haram, timbul keraguan didalam hati pemuda ini, dengan perlahan dia meletakkan tangannya di atas marmer masjid, ada sesuatu yg hangat yg mengalir ketangannya, 
“ini marmer sungguhan “bathin pemuda ini lagi 
Lalu pemuda ini berdiri melihat lalu lalang orang2 yg sedang berthowaf, ratusan ribu orang berjubel jadi satu dg pakaian putih saling bersahutan memuji Allah, pemuda ini lalu teringat dg pesan wali paidi, kemudian duduklah pemuda ini dan mulai membaca “la haula wala quwwata illa billah”
ketika bacaannya sampai ke bacaan yg ke tiga, datanglah angin yg sangat kencang, bumi makkah serasa bergoncang, seakan kena gempa, dan tanpa bisa dicegah tubuh pemuda thoriqot ini terguling guling, suasana menjadi gelap, tubuhnya baru terhenti ketika menabrak sesuatu, berangsur angsur suasana menjadi tenang kembali, pemuda ini mulai membuka matanya, betapa kaget dirinya, ternyata dia sekarang berada diatas tumpukkan sampah, tempat yg tadinya dikira masjidil haram ternyata Tempat Pembuangan Sampah.....
WALI PAIDI 7
setelah beberapa hari bersama wali paidi, si murid thoriqoh ini menghadap kepada guru mursyidnya guna melaporkan peristiwa yg dialaminya..
Kira2 sepuluh meter dari gerbang pondok, si murid ini sudah disambut kawannya yg juga mondok disitu dg berkata :
“ kang..sampeyan udah ditunggu mas yai didepan mushollah pondok...”
“ lho..yai sudah menunggu tho...” jawab simurid
“ iya kang...tadi kira-kira 1/5 jam yg lalu aku disuruh mas yai
membuat dua kopi dan beliau berpesan, setelah membuat kopi tolong taruh di depan mushollah dan cepat2 kamu kepintu gerbang karena dulurmu akan datang...” terang kawan simurid
Mereka berdua memasuki pintu gerbang pondok yg begitu kecil, pintu gerbang pondok disini memang beda dg pintu gerbang pondok2 lainnya, pintu gerbang disini Cuma satu daun pintunya dg ukuran 1 meter x 2 meter terbuat dari kayu yg dilapisi seng, kalau ada orang yg tidak pernah kepondok ini pasti tidak tahu pintu gerbangnya...
Pernah dulu abahnya mas yai ini mau merenovasi pintu gerbang ini dg membuatnya agak lebar dan diperbagus, tapi malamnya abahnya mas yai ini mimpi bertemu mbah yai yg mengatakan
“ nak...jgn dipugar pintu gerbang itu, biarlah seperti itu saja, biarlah orang mengira kalau disini tidak ada pondok..”
Setelah mimpi tersebut abah yai urung merenovasi pintu gerbang pondok, Setelah melewati pintu gerbang pondok si murid dan kawannya ini melihat mas yai sudah duduk sambil merokok di depan mushollah pondok dan didepannya ada dua cangkir kopi....
Si murid mengucapkan salam kpd mas yai :
“assalamu ‘alaikum..”
“wa alaikum salam” jawab mas yai
Setelah mencium tangan gurunya si murid ini duduk didepan mas yai sedang kawannya pergi tidak ikut duduk dengannya karena yg di panggil mas yai bukan dia...( inilah adab seorang murid)
Setelahmenceritakan pengalamannya, si murid ini bertanya kepada guru mursyidnya:
“yai..ketika sholat dulu,saya mendengar bacaan wali paidi itu tidak sempurna tapi lama kelamaan suara wali paidi ini berubah menjadi sempurna dan sangat merdu...apa maksud semua itu...”
Setelah menghisap rokoknya dalam2 mas yai ini berkata :
“ kamu kan jelas pernah mendengar, kata Nabi : bau mulut orang yg berpuasa itu wangi bagaikan minyak kesturi dihadapan Allah....ketika kamu mendengar suara kang paidi itu menjadi merdu, sesungguhnya kuping yg kamu pakai untuk mendengar itu kupingnya gusti Allah...kalau kupingmu sendiri yg kamu pakai maka terdengar seperti itu jadi terdengar tidak sempurna menurutmu, tapi dihadapan Allah bacaan kang paidi ini begitu merdu... begitu juga dg bau mulut orang yg berpuasa, akan tercium sangat busuk kalau menciumnya itu dg hidung kita sendiri...”
Simurid ini bertanya lagi :
“apakah kang paidi ini juga orang thoriqoh...”
“iya..dia murid abahku , kang paidi ini sebelum masuk thoriqoh perilakunya sudah sangat berthoriqoh...kalau kamu melihat tingkah polahnya yg awur2an itu hanya untuk menutupi ke sejati an dirinya... setahu saya kang paidi ini orang yg tidak punya su’udzon kepada orang lain, kepada siapapun orangnya baik anak kecil maupun maling , kang paidi ini tetap husnudzon, inilah salah satu kelebihan kang paidi..” jawab mas yai
“ tapi..mengapa bukan yai sendiri yg mengatakan kepada saya kalau selama ini tempat yg saya kira makkah itu sebenarnya tempat pembuangan sampah..” tanya si murid lagi
“ hahahaha....itu memang tugasnya kang paidi...dan lagi, tempat pembuangan sampah itu kan dekat dg mushollah kang paidi...kalau aku yg menunjukkan, kamu akan bingung berada dimana, sedangkan TPA itu jauh dari sini....
****
di tempat lain wali paidi sedang kedatangan seorang tamu yg pingin sekali bisa berangkat haji
“ kang ..saya ingin sekali bisa berangkat haji..tolong saya dikasih amalan yg bisa membuat saya bisa berangkat haji...” pinta orang tersebut
“ saya tidak bisa...coba sampeyan minta kepada yai yg lebih mengerti soal itu..saya ini orang bodoh..” jawab ali paidi
“ tidak kang ..saya tidak keliru krn saya bermimpi kalau sampeyanlah yg bisa menunjukkan jalan tersebut...” bantah orang tersebut
“ baiklah..kalau sampeyan memaksa....sehabis sholat shubuh sampeyan baca surat yasin sebanyak 7 X...kalau ada apa2 sampeyan kesini lagi..” jawab wali paidi
Setelah orang tersebut membacanya selama 1 bulan tapi tidak terjadi apa2 , orang ini kembali kepada wali paidi
“ tidak ada apa-apa kang....” kata orang yg kepingin haji ini
“ kalau gitu bacaan surat yasinnya ditambah surat waqiah sebanyak 7 x...nanti kalau ada apa-apa sampeyan kesini lagi...” kata wali paidi
Setelah dibaca selama 1 bulan surat yasin dan surat waqiah ini tetap tidak mengeluarkan tanda apa-apa, akhirnya orang ini kembali lagi ke wali paidi
“ masih belum ada tanda apa-apa kang....” kata orang yg kepingin haji
Wali paidi terdiam dan memejamkan matanya sebentar selanjutnya dg mantab dia berkata kepada orang tersebut :
“ kalau begitu...tambah lagi dg surat tanah...pasti sebentar lagi sampeyan akan berangkat haji....”
“ ha..ha..ha...” orang yg kepingin haji ini tertawa terbahak bahak mendengar jawaban wali paidi....
“
“ anu kang...katanya para kiai.... haji itu tidak hanya ibadah ruhani saja tapi juga ibadah jasadi terutama ibadah dengan bondo atau duit....” jawab wali paidi dg mimik serius tapi terlihat lucu
WALI PAIDI 8
Wali paidi menyusuri jalan, pergi tanpa arah dan tujuan, dia hanya berjalan dan berjalan, Lupa akan makan dan minum, wali paidi pingin menghindari orang2 yg mulai tahu kedudukannya, mulai banyak orang sekarang yg memanggilnya gus, memanggilnya kiai bahkan ada yg terang2an menggangilnya sang wali
Kehidupan wali paidi sekarang tampak ramai, ada saja orang yg memerlukan bantuannya, soal jodoh, soal penglaris dan ada juga yg hanya minta barokah do'a dan yg paling berat ada yg minta diakui murid. Wali paidi merasa terusik, dia kepingin merasakan kehidupannya yg dulu, orang2 hny mengenalnya sebagai penjual minyak wangi, dg pengajar alif2an di musholla kecilnya
Dan sekarang banyak orang yg berlomba2 pingin membangun mushollanya, Wali paidi pingin menghindari itu semua, dia jengah akan semua pujian yg dialamatkan pada dirinya, lebih2 akan datangnya malaikat yg
mengunjunginya baru2 ini.
Wali paidi mulai memasuki hutan belantara, dia berjalan terus dan berhenti ketika dia melihat didepannya ada sungai, Dia mendekati bibir sungai, dilihatnya airnya begitu jernih, dia menunduk dan mulai membasuh tangan dan mukanya, lalu wali paidi memperbarui wudlunya, karena wali paidi ini diberi kemampuan oleh Allah untuk selalu dlm keadan suci ( punya wudlu ) atau bahasa ngaji sak paran parannya "da'imul wudlu "
Setelah wudlu wali paidi baru sadar kalau ada orang yg agak jauh disampingnya, orang itu sedang memancing. Wali paidi mendekati orang itu, dia merasa orang itu bkn orang sembarangan melihat wajah dan tiba2 aja hati wali paidi semakin tentram ketika melihat orang ini, Wali paidi mau mengucapkan salam tapi kedahuluan orang tsb
" assalamu'alaikum kang paidi " ucap orang itu
" wa alaikum salam, kalau boleh tahu siapakan anda " tanya wali paidi keheranan
" untuk saat ini namaku syukron fahmi " jawab orang itu
Wali paidi terdiam, dia hanya menunduk memikirkan jawaban orang tsb, dan tiba2 saja sikap wali paidi berubah dg sendirinya tanpa ia sadari, wali paidi bersikap seakan mengahadapi gurunya
" kang paidi sampeyan tidak seharusnya menghindari semua itu, pujian2 itu adalah ujian buatmu, ujian yg berupa pujian itu lebih berat dari penghinaan, Allah mau meningkatkan derajad sampeyan..." ucap orang itu
Wali paidi semakin menunduk, ternyata orang yg sedang memancing ini tahu akan keadaan dirinya
" kang paidi, dg menghidari pujian2 itu sama saja sampeyan menafikan kekuatan Allah, krn smpyn merasa tidak mampu, padahal Allahlah yg memberi kekuatan " kata orang itu lagi
Wali paidi hny bs diam dan semakinmenunduk, air mata mulai meleleh dr matanya
" ingat, la haula wala quwwata illa billah, merasa mampu dan merasa tidak mampu itu tidak boleh, itu sudah syirik khofi bagi orang setingkat sampeyan, krn Allah yg memberi kekuatan, Allah meliputi segalanya "
Wali paidi menangis sesunggukan, dia yakin orang yg di depannya adalah nabiyullah Khidir, dia ingin bersalaman dgnya untuk memastikannya, setelah menangisnya agak reda, wali paidi mengangkat wajahnya dan mau bersalaman dg orang itu
Tapi orang yg mengaku bernama syukron fahmi sudah hilang dr hadapannya....
Setelah bertemu sosok yg mengaku bernama syukron fahmi, wali paidi masih terdiam dalam duduknya, masih terngiang2 ucapan sosok misterius yg menggugah jiwanya itu.
Wali paidi berdiri membersihkan tempat duduknya dan mulai melaksanakan sholat, setelah salam, wali paidi berdiri lagi dan melakukan sholat lagi, begitu terus sampai malam kira2 sekitar jam 9 malam, wali paidi berhenti dan melanjutkan dg melakukan wirid
Dia duduk bersila, memusatkan pikirannya, membuang jauh2 pikiran2 tentang dunia, menggerakkan hatinya untuk berdzikir sirr, dan entah berapa lama hal ini terjadi, dan kemudian wali paidi merasakan alam disekitarnya begitu hampa, tidak ada suara, semua yg berada disekitarnya jadi hitam gelap gulita, wali paidi seakan menjadi udara yg hampa dan bergerak mengitari alam yg hitam pekat ini.
Setelah berkeliling tampak didepannya ada dua sosok manusia yg sedang duduk seperti duduknya orang tahiat, dan berdiri disamping keduanya sosok berjubah putih yg bercahaya
Lamat-lamat wali paidi mengenali salah satu sosok yg duduk didepannya tsb.
" tidak salah lagi, beliau adalah imam ghozali mujtahid islam " bathin wali paidi
Lalu wali paidi melihat sosok baju putih itu maju kedepan dan berkata kepada sesuatu yg didepannya, sesuatu yg tdk terlihat
" gusti... bagaimana menurut njenengan thdp kedua kekasihmu ini yakni nabi musa dan al ghozali...? " tanya sosok putih itu
Lalu ada suara yg mengatakan
" musa dg ijinku bisa menghidupkan orang yg telah mati, tapi aku lebih suka thdp al ghozali krn dia dg ijinku pula bisa menghidupkan hati hamba2ku yg telah mati, banyak menghilangkan kebodohan dan membuka jalan buat hamba2ku untuk lebih mengenalku...."
Lalu ketiga sosok itu samar2 hilang dari pandangan wali paidi
Lalu lamat2 terdengarlah adzan subuh, sedikit demi sedikit alam mulai terlihat kembali
Setelah sholat, wali paidi bangkit dan kembali pulang....
BERSAMBUNG...

WALI PAIDI 3-4


(Pengarang : tidak tahu, diambil dari blog ekapitano)

Setelah beberapa hari di indonesia wali paidi ini berencana melakukan suluk nyepi ke gua
di gunung arjuna sesuai perintah sang sulthonul aulia...
wali paidi mulai berkemas untuk berangkat ke gunung arjuna. Ber pres2 rokok sudah disiapkan mulai dji sam soe, gudang garam dan djarum sudah lengkap, tidak ketinggalan kopi satu blek juga dibawahnya.
Setelah sampai di kaki gunung arjuna wali paidi mulai mendaki mencari gua yg di maksud oleh sang sulthonul aulia, pada hari yg ketujuh sejak pendakian wali paidi akhirnya menemukan gua tersebut, gua itu mulutnya kecil tertutup ilalang tp dalamnya luas , dipojok kiri ada sumber mata air dan di pojok kanan ada batu yg menyerupai meja yg kemungkinan oleh yg pny gua ini dulu dipakai untuk sholat.
Wali paidi menaruh barang bawaannya di sebelah batu yg mirip meja tsb, dan pergi menuju ke mata air untuk mandi dan berwudlu, ketika mandi hati wali paidi ini dg sendirinya berzikir dg cepat dan otomatis, pengetahuan ruhani wali paidi semakin bertambah, hatinya berbunga2 tanpa dpt ia cegah, nur bashirohnya semakin terang benderang, setelah berwudlu wali paidi ini melakukan sholat di atas batu yg mirip meja itu, beratus ratus rokaat tanpa terasa telah berlalu dan wali paidi baru sadar ketika terdengar ayam berkokok
Wali paidi turun dari batu menuju tempat perbekalannya untuk membuat kopi dan duduk santai sambil merokok, panci sudah di keluarkan dan rokok dji sam soe reefil sudah di siapkan, tapi alangkah kagetnya wali paidi ini ketika mencari korek tidak ada, ia keluarkan semua isi tasnya tapi tetap aja korek tidak ditemukan,
'' wadoh ciloko iki,'' wali paidi bergumam sendiri,
Dia melihat kopi satu blek yg aromanya begitu harum dan berpres-pres rokok berbagai merk tergeletak disamping kopi
'' wes..wes..muspro kabeh iki, kok bisa koreknya gak kebawa..'' kata wali paidi mulai kesal.
Satu dua hari dilalui wali paidi ini tanpa kopi dan rokok dan pada hari yg ketiga wali paidi mulai tidak tahan, hatinya semeblak ketika melihat kopi dan rokok yg terkulai tak berguna..
Wali paidi mulai membaca hizb, semua hizb ia kerahkan dan setelah membaca asyfa' 3x wali paidi ini mengusapkan telapak tangannya pada matanya dan byarr... Seluruh alam jin dan makhluk halus lainnya tampak sangat jelas, terlihat Wali paidi segerombolan jin diluar gua sebelah kiri. Kira-kira 10 meter dari mulut gua, wali paidi mendatangi bangsa jin yg terdekat dg gua tsb, gerombolan jin yg melihat wali paidi datang, tampak ketakutan
'' ada yg pny korek api?'' tanya wali paidi kpd bangsa jin
''kami gak punya'' jawab mereka.
Wali paidi lansung mengobrak abrik tempat para jin tsb, para jin lari tunggang langgang dan banyak sekali yg terluka. Selanjutnya Setiap tempat yg ada jinnya didatangi oleh wali paidi ini dan kalau ditanya jawabannya gak pny korek api maka wali paidi ini lansung mengobrak abrik tempat tersebut.
Gemparlah seluruh bangsa jin digunung arjuna melihat sepak terjang wali paidi ini, seluruh desa dan kota dari kerajaan jin di gunung arjuna ini telah di obrak abrik oleh wali paidi. Nama wali paidi menjadi terkenal menjadi momok yg menakutkan dikalangan bangsa jin.
Dan akhirnya tibalah wali paidi ini dipusat kerajaan bangsa jin, ketika sampai di gerbang kerajaan wali paidi disambut oleh 2 prajurit yg memang oleh raja mereka diperintahkan untuk menyambut wali paidi dan mengantarkan kepadanya.
Tampak wajah2 yg ketakutan di wajah prajurit jin ini melihat wali paidi, Dg suara tergagap - gagap prajurit ini mempersilahkan kpd wali paidi untuk masuk istana dan menemui raja mereka. Dalam istana raja jin yg bernama ismoyo ini sudah menunggu kedatangan wali paidi, setelah wali paidi masuk istana, raja ismoyo ini langsung turun dari singgasananya menyambut lansung wali paidi dan mempersilahkan wali paidi untuk duduk di sampingnya.
Dg agak takut raja ismoyo ini bertanya: '' hamba dengar tuan wali telah membuat geger kerajaan hamba, tuan telah mengobrak abrik seluruh wilayah kerajaan tanpa ada yg sanggup melawan tuan, apakah gerangan yg tuan cari , sehingga tuan murka begini, mungkin hamba bisa membantu,''
Wali paidi menjawab :'' aku mencari korek, apakah anda punya,''
Seluruh prajurit tegang menunggu jawaban raja mereka, senjata pedang dan tombak sudah mereka pegang dg erat bersiap kalau2 ada hal2 yg tdk di inginkan..
WALI PAIDI 4
..keringat yg berbau kemenyan keluar dr pori2para prajurit raja jin yakni raja ismoyo, suasana tegang masih sngt terasa, saking tegangnya ada perajurit yg terkencing2 di celana. hehehe
" tuan wali, buat apakah korek tsb kalau hamba boleh tahu " tanya raja ismoyo 
" buat menyalakan ini dan membuat ini " jawab wali paidi sambil menunjukkan rokok dan kopinya 
" hanya untuk itu .." tanya raja ismoyo heran 
" ya ..hanya untuk ini " jawab wali paidi singkat raja ismoyo membathin dalam hati, wali ini aneh, masak hanya gara2 pingin ngerokok dan ngopi aja dia telah menghacurkan kerajaanku, dasar wali semprul 
" eeitt...namaku paidi bkn semprul " sahut wali paidi 
" ah..maaf tuan, ternyata tuan bisa membaca isi hati hamba" raja ismoyo mulai takut dan heran 
" trus..gimana sampeyan punya korek apa tidak " tanya wali paidi lagi
 
" kalau hanya untuk menyalakan itu, pakai ini aja tuan " jawab raja ismoyo sambil menjulurkan jari telunjuknya yg tiba2 bisa mengeluarkan api 
" masya Allah...kalian kan mmg terbuat dari api, maaf baru ingat hehehe " jawab wali paidi sambil cengengesan. wali paidi mendekati raja ismoyo, mengeluarkan sebatang rokok dji sam soe refillnya dan mulai menghisap rokoknya
" hu...Allah...hu...Allah.." begitulah yg terdengar ktk wali paidi merokok,
selanjutnya raja ismoyo memanggil panglimanya dan berkata kepadanya :
" buat kan kopi buat tuan wali ini " perintah raja ismoyo sambil mengambil kopi dari wali paidi dan menyerahkan kpd panglimanya.
 
"jangan manis manis..ya.." wali paidi berpesan kerajaan raja ismoyo ini yg terkenal angker dan ditakuti bangsa jin dan manusia sekarang berubah bagaikan warung kopi pinggir jalan gara2 wali paidi
 
" sampeyan tdk merokok..." tanya wali paidi
 " tidak.." jawab sang raja 
 " apakah sampeyan jin muhammadiyyah " tanya wali paidi lagi 
 " saya tidak mengerti maksud tuan " jawab raja ismoyo heran
 " maaf, agama sampeyan apa " tanya wali paidi 
 " saya tidak beragama " jawab raja ismoyo 
 " oh..begitu.." gumam wali paidi keduanya lalu terdiam agak lama 
 " maaf tuan, wirid apa yg tuan baca, sehingga tuan tidak bisa dikalahkan oleh para prajurit saya " tanya raja ismoyo penasaran
 
" hizb dan sholawat " jawab wali paidi 
 " maukah tuan mengajarkan kepada saya " pinta raja ismoyo.
 
" ya...boleh, tp sampeyan harus masuk islam dulu " jawab wali paidi
lalu raja ismoyo memanggil panglimanya, memerintahkan kepadanya untuk mengumpulkan seluruh rakyat dan semua prajuritnya, dalam sekejab balai agung istana ramai dipenuhi prajurit dan rakyat, bahkan sampai meluber keluar istana, selanjutnya raja ismoyo bersimpuh dikaki wali paidi diikuti seluruh rakyatnya
" kami dg suka rela siap masuk islam, mengikuti agama tuan " kata raja ismoyo kpd wali paidi 
" baiklah....ikuti apa yg aku ucapkan..." kata wali paidi 
Dengan suara yg sangat berwibawa wali paidi mengucapkan dua kalimat syahadat diikuti seluruh bangsa jin kerajaan raja ismoyo. ucapan syahadat para bangsa jin ini menggema keseluruh gunung arjuna bahkan seluruh hewan digunung arjuna berhenti sejenak tidak ada yg bersuara mendengarkan ucapan syahadat ini,
setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, wali paidi mengajarkan pd mereka apa itu islam dan menjabarkan arti iman secara singkat.
selanjutnya wali paidi tinggal diistana raja ismoyo guna mengajari mereka cara sholat, cara ber dzikir dan lain sebagainya, setelah beberapa minggu tinggal diistana wali paidi akhirnya mohon pamit kepada raja ismoyo 
" kami masih butuh pencerahan dari tuan, sudilah kiranya tuan tetap disini beberapa hari lagi " pinta raja ismoyo kepada wali paidi
 
" jangan kuatir, kelak aku akan datang lagi kemari " kata wali paidi dan dengan tersenyum wali paidi mendekati raja ismoyo dan memegang dada raja ismoyo, sambil berkata : 
"ajaklah hatimu untuk dzikir terus menerus, ucapkan Allah...Allah....secara berkesinambungan, dalam keadaan apapun teruslah berdzikir, dan berusahalah selalu dlm keadaan punya wudlu, andai Allah mencabut nyawamu, km dlm keadaan suci..."
 
" terima kasih tuan, pesan tuan akan kami laksanakan.." jawab raja ismoyo dg ta'dzim
 
" kalo hatimu sudah bs berdzikir, maka Allah sendiri yg akan membibingmu..." kata wali paidi
 
" apakah kami akan menjadi wali kalau hati kami sdh bisa berdzikir sendiri " tanya raja ismoyo 
"ha..ha...ha....jangan sekali2 pny niat pingin menjadi wali, krn keinginan itu termasuk nafsu, berdzikirlah krn Allah, jgn ada niatan yg lain" jelas wali paidi
 
setelah menghisap rokoknya wali paidi berkata lagi " Allah menjadikan manusia pemimpin dimuka bumi ini,
dan mengangkat para walinya dari kalangan manusia " jelas wali paidi lagi
 
" oh begitu... kalau Allah menghendaki begitu kami sangat ridlo dg keputusan Allah tsb," jawab raja ismoyo maggut2 
 " kalau boleh tahu tuan ini wali yg bagaimana? " tanya raja ismoyo selanjutnya 
" hmm...aku adalah wali abdal, wali pengganti,kalo istilah dalam sepak bola sebagai pemain cadangan, wali tingkat rendah, aku dulu hny seorang abdi seorang kiai, tugasku hny menyiapkan rokok dan kopi, setelah kiai saya meninggal akulah yg dipilih Allah sebagai gantinya" terang wali paidi
 
" jadi wali itu jumlahnya tetap sama dr dulu sampai skrng ?" tanya raja ismoyo dg bersemangat
 
" iya, jumlahnya wali diseluruh dunia tetap sama, krn setiap yg meninggal pasti ada gantinya, biarpun km tidak ada hak untuk menjadi wali km hrs tetap semangat, krn dimata Allah derajad seseorang itu dilihat dr ketaqwaannya, wali itu hanya title yg diberikan Allah buat para wakil2nya dimuka bumi, guna untuk mengatur dan menata manusia dan wali dipilih dari pr hamba yg dikehendakiNya, bukan krn ibadahnya bukan krn dzikirnya tapi krn kehendak Allah, jd salah besar kalau ada orang yg pingin atau mempunyai cita2 menjadi wali..." jawab wali paidi
 
" terimakasih tuan...mudah2an apa yg tuan ajarkan kepada kami menjadi ilmu yg manfaat" ucap raja ismoyo 
akhirnya wali paidi pamit dan meninggalkan gunung arjuna diiringi raja ismoyo dan seluruh rakyatnya....
setelah wali paidi sudah tidak tampak raja ismoyo dg suara yg lantang berkata kepada rakyatnya
" rakyatku semuanya....nanti atau kapanpun, kalau ada orang yg ke gunung arjuna ini berbekal rokok dan kopi, jgn sampai di ganggu, jagalah mereka sampai mereka meninggalkan gunung arjuna ini, demi menghormati guru kita wali paidi "
 
" titah paduka akan kami laksanakan... " jawab mereka serempak
BERSAMBUNG...

WALI PAIDI 1-2

(Pengarang : tidak tahu, diambil dari blog ekapitano)

setiap tgl 10 arofah ada perkumpulan 40 wali diatas gunung di daerah makkah,
40 wali ini tersebar ke seluruh pelosok dunia, dan setiap tahun mereka berkumpul di atas
bukit di daerah makkah ini ( maaf tempat dirahasiakan) yg datang ada yg terbang,
ada yg naik sajadah sprti aladin, ada yg muncul dr bumi, ada yg naik burung, ada yg cling tahu2 sdh di tempat.

acara tahunan ini ( semacam reuni ) di pimpin lansung oleh king of the king sulthonul aulia ( gak pake pohan ) rajanya pr wali yg setiap masa hanya satu orang di JAGAD SELURUH ALAM SEMESTA ini, diatas bukit mulai terdengar dentuman2 lantunan dzikir yg terpancar dari hati mereka,
diatas bukit para malaikat berwujud awan ikut menyemarakkan acara reuni tahunan ini dg hembusan angin yg sepoi2 berlantunkan takbir, tahmid dan tahlil ( alhamdulillah malaikat e iki yo NU )

tampak di kejauhan di bawah bukit ada orang yg tdk terlalu tua tampak tertatih2 dan sngt kesulitan mencoba menaiki bukit, berbeda dg wali2 yg datang sebelumnya, seorang tua ini tampak sangat kesulitan menaiki bukit dg tongkatnya dia berusaha melewati bebatuan yg terjal dan berliku,
kadang dia berhenti sebentar tuk mengatur pernafasannya lalu melanjutkkan menaiki bukit lagi setelah sampai dipuncak tampak jelaslah orang ini, gemuruh nafasnya masih tampak tersenggal2 kecapekan.
pakaiannya biasa. jubah putih yg agak kecoklatan agak kotor,,walaupun kelelahanwajahnya selalu tersenyum dari wajahnya bisa dikatakan orang ini gak gampang meremehkan orang lain,tawadu dan sopan...
Para wali menghentikan aktifitasnya setelah melihat kedatangan orang tua ini,
suasana tiba2 hening, satu persatu pr wali menyalami orang ini dg penuh hormat dan takdzim...

'' ahlan wa sahlan ya habibullah ya sulthanul aulia...'' ucap mereka

eh ternyata orang yg tampak biasa sekali ini adalah rajanya para wali, keramatnya dan kesaktiannya se akan tidak ada sama sekali....

'' tolong panggilkan paidi arek indonesia itu suruh kesini...'' ucap sang sultonul aulia kpd pr wali disela2 kerumunan para wali

muncullah seorang pemuda dg jas layaknya tentara dan peci hitam yg agak tinggi,
dari wajahnya terlihat kalo paidi ini pemuda yg kocak, dg wajah cengar cengir pemuda ini mendekati sang sultan aulia dan mencium tangannya
setelah wali paidi ini menghadap. sang sulthon ini berkata kpdnya '' di..paidi sini aku minta rokoknya dan tolong sekalian masak air buatkan kopi..''

hehehe...ternyata wali yg kemana2 bawa rokok dan kopi hanya wali dari indonesia..

WALI PAIDI II

Sehabis dari pertemuan dimakkah, wali paidi kembali lagi keindonesia,
wali paidi pingin mencoba ilmu yang baru saja didapat dari temannya wali dari india,
naseer khan yaitu ilmu melipat bumi, teman wali paidi ini memang terkenal sakti,
seluruh biksu di india tidak dapat menandingi kesaktiannya,
bahkan biksu dari tibet banyak yang masuk islam, setelah kalah bertarung dengan naseer khan ini,
ketika berangkat kemakkah wali paidi “nunut” temannya dari india ini,
wali paidi hanya disuruh menggandeng tangannya lalu tiba-tiba saja cling
wali paidi dan temannya naseer khan sudah berada dimakkah diatas bukit tempat pertemuan.

dan karena kasihan wali naseer khan ini meng ijazahkan ilmu melipat bumi kepada wali paidi, supaya diacara pertemuan-pertemuan yang akan datang wali paidi tidak repot mencari tunutan lagi.

Wali paidi memejamkan matanya dan mulutnya mulai berkomat kamit membaca doa-doa khusus, tiba – tiba tubuh wali paidi terasa dingin, bumi yang didudukinya terasa seperti es, wali paidi membuka matanya tampak didepannya bukit yg tertutup es, dia melihat kebawah, bumi yg didudukinya juga terbuat dari es,

“dimanakah aku ini “ bathin wali paidi

Wali paidi berdiri, melihat sekelilingnya, semuanya tampak putih tertutup salju,
wali paidi berjalan mengitari tempat yg belum pernah dilihat selama hidupnya, sepi tiada orang sama sekali, lamat lamat wali paidi mendengar ada orang yg bersenandung membaca sholawat, wali paidi dengan langkah perlahan lahan mengikuti asal suara senandung sholawat tersebut, dan tampaklah di depannya beruang besar putih, membungkuk ditepi sungai mencari makanan ikan segar,

masya Allah ternyata yg bersenandung itu bukan manusia tapi beruang putih ini, wali paidi berhenti, beruang putih itu menoleh kepada wali paidi dan berkata kepadanya

“assalamu’alaikum “ucap beruang itu

“wa alaiku salam “jawab wali paidi dg perasaan kaget dan heran

“kamu wali paidi ya, aku tadi dapat khabar kalau nanti ada orang yg kesasar kesini, namanya wali paidi, “ucap beruang itu,

setelah memakan ikan yg baru didapatnya beruang putih itu melanjutkan berkata lagi

“kamu jangan kuatir memang sudah biasa orang belajar itu tidak bisa lansung menguasai ilmu yang baru didapatnya, cobalah sekali lagi ” kata beruang tersebut lalu pergi meninggalkan wali paidi

Wali paidi diam seribu bahasa, wali paidi mendongak ke atas melihat posisi matahari, ternyata dia kesasar ke kutub selatan , dan bertemu beruang putih yg bisa bicara,
Setelah sholat sunnah dua rokaat, wali paidi mulai merapal doanya kembali dan cling....
Wali paidi membuka matanya kembali, dan betapa kagetnya wai paidi ketika membuka matanya tampak disekelilingnya banyak orang berlarian dg memakai baju gamis selutut dg memakai surban, tampak ditangan mereka senjata AK 47, terdengar suara bising peluru berseliweran

“aduh..kesasar lagi aku ini, tadi kesasar kekutub selatan , sekarang kesasar lagi ke afghanistan, wes- wes kok gak kesasar ke hollywood saja...”

Wali paidi mengamati salah satu pasukan yg semuanya berjenggot panjang, wali paidi tersenyum sendiri melihat jenggot mereka, memang di negara yg dikuasai taliban ini bukan operasi helm yg dilakukan disana tapi operasi jenggot, kalau ada laki-laki yg tidak berjenggot maka kena tilang.
Wali paidi berdiri berjalan mencari ketempat yg sepi, wali paidi tidak suka dg peperangan,
wali paidi memutuskan untuk lansung pergi saja, setelah menemukan tempat yang sepi
wali paidi mulai merapal do’a-do’a ilmu melipat buminya lagi
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah wali paidi, wali paidi membathin mudah-mudahan tidak kesasar lagi, wali paidi membuka matanya perlahan-lahan tampak didepannya rumah yg terbuat dari kayu, persis rumah para transmigrasi diluar pulau, tidak lama kemudian keluarlah seorang tua berpeci putih
dg baju taqwa dan bersarung melambaikan tangannya memanggil wali paidi,
wali paidi teringat dg orang tua ini, beliau adalah habib ali alhabsyi pahat malasya,
yg kemarin juga ikut pertemuan di makkah,

“masya Allah ternyata aku masih kesasar lagi “ bathin wali paidi

Wali paidi melangkahkan kakinya mendekati habib ali alhabsyi, wali paidi teringat beberapa tahun yg lalu ketika sayyid maliki dari makkah mau berkunjung ke ndalemnya habib ali ini,
di dalam perjalanan sayyid maliki ini tiba- tiba merasakan kangen yg amat sangat terhadap datuknya baginda Nabi Muhammad, setelah sampai didepan ndalem habib ali ,
habib ali hanya menyuruh masuk sayyid maliki, sedang rombongan yg lain disuruh menunggu diluar, beberapa menit kemudian sayyid maliki keluar dg beruraikan air mata, sayyid maliki menangis tersedu- sedu

“sudah terobati kangenku...”ucap sayyid maliki dg masih menangis

Ternyata ketika sayyid maliki masuk ke ndalemnya habib ali, sayyid maliki dipertemukan oleh habib ali dengan baginda Nabi Muhammad , subhanallah.....

“mari masuk nak, jangan melamun saja “ucap habib ali

“inggih mbah...” jawab wali paidi, lalu melangkah mendekati habib ali ,

setelah mencium tangan beliau, wali paidi masuk ke ndalem

“ kamu memang gak bakat dg ilmu melipat bumi itu nak paidi, jadi nanti gak usah dicoba lagi, kamu naik pesawat saja dari sini ke indonesia “kata habib ali

“ inggih mbah “ jawab wali paidi

“siapa tahu nanti ketika kamu naik pesawat, kamu bertemu dg mulan jameela yg kamu gandrungi itu “ goda habib ali

“hahaha....”wali paidi hanya bisa tertawa mendengar godaan habib ali ini

Setelah makan bersama, wali paidi pamit pulang, habib ali menepuk- nepuk pundak wali paidi mengantarkannya keluar dari ndalem

“ingat perintah sang sultan nak paidi, setelah sampai ke rumah segeralah ke gunung arjuna untuk kholwat disana..”

“inggih mbah “ jawab wali paidi

Setelah mencium tangan habib ali, wali paidi beranjak pergi kebandara , naik pesawat pulang ke indonesia

BERSAMBUNG...

Kamis, 19 Januari 2017

Mari Dukung ”Gerakan Mari Belanja di Warung Tetangga”

Berbelanja kebutuhan harian, mingguan atau bulanan keluarga, biasanya kita lakukan di hari libur. Tetapi, bijakkah kita bila membeli jauh-jauh ke pusat belanja “modern”? Coba tengok kebiasaan kita ini. Belanja di swalayan ****Mart atau ****Mart, semua barang memang terpampang. Tapi, hampir tak ada interaksi kemanusiaan. Apalagi pertemanan dan persaudaraan. Bertahun-tahun kita menjadi pelanggan, yang bahkan dibuktikan dengan “kartu pelanggan”, tapi sungguh penjualnya tetap tidak kita kenal. Bahkan pelayanpun kita tak tahu siapa, apa dan bagaimana kehidupan mereka. Komunikasi hanya dengan “pelayan”, ingat bukan “penjual”. Dan hanya seputar transaksi saja. Itupun sekarang diwakili dengan tulisan.

Sementara ketika kita membeli di warung tetangga, selain dekat, juga ada interaksi sosial kemasyarakatan yang akrab. Ada “obrolan”, bukan sekedar transaksi barang yang menghilangkan nilai sosial kemanusiaan kita. Kita jadi tahu, kenal dan dekat dapat silaturahmi dengan masyarakat dan lingkungan. Komunikasi beginilah yang manusiawi. Yang menghubungkan antar orang, komunitas dan masyarakat. Bukan sekedar barang, angka penjualan dan plastik kemasan.
Membeli di warung tetangga akan menumbuhkan kekuatan ekonomi keluarga itu. Kita jadi berperan bagi tegaknya ekonomi dan ketahanan sebuah keluarga. Suami, istri dan anak-anaknya. Dan mereka, berperan sebagai penjual. Berwirausaha. Bukan sekedar menjadi pelayan alias babu dari para pemilik modal kapitalis liberal yang berdalih seragam karyawan. Bayangkan, sampai umur berapa toko-toko modern mau mempekerjakan para pelayan ini? Cuma saat usia muda. Sedang dengan menjadi “penjual” sebenarnya mereka akan “terhidupi” bahkan sampai anak-anak mereka dewasa.

Belum lagi soal efektifitas budget kita. Bayangkan, saya pernah uji coba, membawa uang 100 ribu dan pergi ke toko swalayan modern. Ternyata kurang! Dan lihat belanjaannya. Saya banyak membeli barang yang tak perlu. Karena godaan iklan dan penataan, saya melakukan pemborosan!

Sedang ketika saya ke warung tetangga, uang 100 ribu masih sisa. Barangnya pun sangat fungsional, benar-benar kebutuhan pokok. Dan saya mendapatkan bonus ungkapan penjual yang membahagiakan, “Alhamdulillah syukur ya, pagi-pagi sudah ada yang belanja 75 ribu. Makasih ya bu,” sambil tersenyum tulus. Sungguh itu bonus yang lebih mahal daripada sekedar “obral dan diskon ngakali” yang penuh strategi bisnis.

Jadi berpikirlah sebelum berbelanja! Shopping lah di warung tetangga atau pasar tradisional. Nikmatilah sisi kemanusiaan anda. Disitulah “rekreasi sebenarnya”. Jangan buang waktu anda di swalayan dan supermall modern hanya untuk membeli kebutuhan pokok rumah tangga anda. Warung tetangga jauh lebih murah, manusiawi, menumbuhkan ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan ada nilai silaturahmi antar tetangga.
Mau umur panjang dan banyak rejeki? Mari biasakan berbelanja di warung tetangga baik kita.

Sekali lagi “Ayo Selamatkan Warung/Toko dan Pasar Tradisional di sekeliling kita”! (*)

HIKAYAT KOPI

Seorang pria Arab bernama Khalid sedang menggembalakan kambing di wilayah Kaffa, selatan Ethiopia. Dia memperhatikan kambingnya menjadi terlihat lebih bergairah dan bersemangat setelah memakan buahbuahan kecil, seperti beri yang berwarna gelap. Rasa penasaran membuatnya memetik dan membawa pulang buah-buahan yang dimakan sang kambing.

Sesampai di rumah, dimasaklah buah-buahan yang ternyata mengandung biji yang cukup besar itu. Khalid telah membuat minuman kopi pertama dari buah yang awalnya disebut bun itu. Sejak itu, biji kopi diekspor dari Ethiopia ke Yaman pada abad ke-10. Hingga akhir abad ke-15, kopi telah mencapai Makkah dan Turki, baru kemudian bisa dinikmati masyarakat Mesir.

Di Timur Tengah, orang orang sufi menyeruput kopi untuk alasan yang sama dengan peminum kopi saat ini, yakni agar bisa tetap terjaga. Para sufi memerlukan kopi untuk membantu dalam ritual-ritual zikir semalam suntuk. Penganut tarekat diyakini menyebarkan kopi di dunia Arab pada abad 13 sampai 15 M. Karena itulah, kopi menyebar ke seluruh dunia, tak hanya lewat pedagang dan pengelana, tapi juga lewat para jamaah haji.

Diawali seorang syekh dari tarekat Sya dziliyah yang memperkenalkan minum kopi di Ethiopia. Tidak jelas siapa tokoh itu, namun diyakini beliau adalah Abul Hasan Ali ibn Umar yang duduk sebagai hakim di pemerintahan Sultan Sadaddin II di selatan Ethiopia.

Syekh Ali kemudian pulang kembali ke Yaman sambil membawa pengetahuan bahwa biji kopi tak hanya bisa dimakan, tapi juga bisa membuat badan terjaga semalaman. Saat ini, sang syekh dinobatkan sebagai wali bagi para petani kopi dan tentu saja para penikmat kopi. Di Aljazair, kopi kadang disebut sebagai “syadziliyah”, sebagai penghormatan untuk sang wali kopi itu.

Minuman kopi diberi nama qahwa, kata yang biasanya dinisbahkan untuk anggur. Bagi orang Eropa yang mengenal kopi sebagai minuman keren dari Arabia, mereka menyebutnya sebagai “anggur dunia Islam.” Bila para sufi memperkenalkan cara membuat kopi dengan memasak bubuk kopi dalam air, orang Persia menemukan bahwa memanggang biji kopi akan lebih menguarkan aromanya.

Seorang sufi bernama Shadili Abu Bakar ibn Abdullah Alaydrus sangat terpesona dengan efek yang ditimbulkan kopi sehingga dia menciptakan sebuah puisi (qasidah) untuk memuja kopi. Para penikmat kopi pada masa itu bahkan memperkenalkan istilah marqaha untuk euforia dari efek minum kopi.

Shaikh ibn Ismail Ba Alawi menyatakan bahwa meminum kopi yang ditujukan untuk memperkuat ibadah dan keimanan bisa mengantarkan pada kondisi qahwa ma’nawiyah (qahwa yang ideal) dan qahwa al-Sufiyya, kondisi yang menyenangkan ketika seorang hamba Tuhan bisa mengetahui rahasia-rahasia tersembunyi di dunia ini dan dunia langit.

Para darwis dari Tarekat Syadziliyah ini termasuk penganut sufi yang paling aktif dalam segala urusan duniawi. Konon, pendiri tarekat ini, Shaikh Abul Hasan asy-Syadzili enggan mengangkat murid yang belum mempunyai pekerjaan. Maka, kopi dipandang memberi manfaat untuk mendongkrak gairah kerja yang pada akhirnya bisa mendorong perekonomian.

Di Makkah, tempat pertemuan para jamaah haji dari seluruh penjuru dunia Islam, kopi sangatlah populer. Menurut sejarawan Arab, kopi bahkan disajikan di Masjidil Haram. Karenanya, jarang sekali ada acara zikir atau maulid tanpa adanya suguhan kopi. Al Azhar, Mesir, juga menjadi pusat dari acara minum kopi yang kemudian dijadikan ritual resmi. Penulis abad ke-16, Ibnu Abdul Ghaffar, menceritakan mengenai suasana pertemuan para darwis atau penganut sufi di Kairo.

‘’Mereka minum kopi setiap Senin dan Jumat, menyajikannya dalam wadah yang besar terbuat dari tanah liat merah. Sang pemimpin kemudian menyendokkan minuman itu dan membagikan kepada para pengikutnya, mulai dari sebelah kanan, sambil mereka menggumamkan lafaz-lafaz tertentu, biasanya La Ilaha Illallah.’’ Para sufi di Yaman pada masa lalu meminum kopi sambil melafalkan ratib, zikir dengan mengulangulang kata Ya Qawiyyu (Wahai Pemilik Segala Kekuatan) sampai 116 kali.

Legenda kopi melangkah lebih jauh lagi dengan adanya cerita dari Persia bahwa minuman itu pernah disajikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad yang sedang tidur. Cerita lain menyebutkan bahwa Raja Sulaiman pernah menyembuhkan penduduk satu kota yang menderita penyakit misterius dengan menyajikan minuman dari biji kopi yang dipanggang. Konon, hal itu atas perintah Malaikat Jibril.

*)disarikan dari berbagai sumber

Kamis, 05 Januari 2017

Apel Kesetiaan; Tabarrukan Ulama Penyala “Api NU”

PACITAN - Dua hari jelang Apel Kesetiaan NU terhadap NKRI di Pacitan (Sabtu, 7/1/17), para koordinator dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur mulai berdatangan. Ahmad Sudarto, Sekretaris PCNU Magetan, koordinator pelaksana Apel Kesetiaan menyatakan, 75 persen sarana prasarana untuk apel kesetiaan sudah siap. “Malam ini, Kamis (5/1/17) kami rapat koordinasi dan pengecekan teknis penyiapan apel di lokasi,”kata Sudarto.
“Alhamdulillah, Kamis panitia pelaksana yang dipimpin Dr Rubaidi menyempatkan berziarah ke makam waliyyullah, Mbah Kyai Umar Syahid. Apel Kesetiaan ini juga tabarrukan kepada beliau," tambah Sudarto.
Tabarrukan. Kata ini lebih tepat digunakan dalam meneladani ulama yang dalam hidupnya diabdikan untuk menyalakan “Api NU”*.
Enceng Shobirin, salah seorang Tim PKPNU yang ikut sowan kepada beliau pada 4 Desember 2016, di sela-sela pelaksanaan PKPNU PCNU Pacitan Angkatan I, tanggal 2-4 Desember 2016, membuat catatan menarik beberapa saat setelah mendengar ulama kharismatik itu wafat.

*Berikut tulisan Enceng Shobirin*:
Kabar mengenai wafatnya KH. Umar Syahid tidak tersimak tadi malam selepas pertemuan dengan Sahabat Mun'im DZ dan Adnan Anwar. Sangat mengejutkan. Kabar duka melalui WhatsApp itu baru terlihat setelah sampai rumah. Tidak mau tertegun berlama-lama, saya tahlil untuk beliau dan berdo’a “mudah-mudahan husnul khotimah. Amin”.
Masih terbayang di mata saya saat sowan bersama rombongan. Idealisme ke-NU-an dan ke-NKRI-an memancar dalam semangat hidup Mbah KH. Umar Tumbu yang masih sangat membara. Padahal usianya sudah 123 tahun.
Beliau sadar betul dengan kondisi fisiknya yang sudah sepuh sekali, akan tetapi terus mengikuti perkembangan situasi dan kondisi, terutama mengenai NU dan warganya. Sambil tergeletak di pembaringan, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.
Secara umum betul apa yang dicatat Sahabat Mun'im? *(baca tulisan sebelumnya).*Beliau memberi contoh bagaimana menghidupi dan merawat NU, memberikan sebagian hartanya untuk NU yang sangat dicintainya, bukan mengambil sesuatu dari NU untuk dimilikinya.
Dengan demikian itu, Mbah Umar Tumbu telah menunjukkan kecintaan yang tulus, pengabdian yang ikhlas untuk menjaga dan menghidupkan NU secara diatas daya upaya dan kemampuan dirinya. Pendekatannya yang sangat mandiri ini terbukti betul sudah mempertahankan "api" hidup NU meski didzolimi dan ditindas begitu rupa oleh rezim Orde Baru.
Istilah *"Api NU"* kiranya cukup menggambarkan bagaimana Mbah Umar Tumbu berkontribusi besar dalam memelihara nyawa NU dari represi Orde Baru. Dicatat oleh para aktivis NU Pacitan; dahsyatnya represi itu tergambarkan oleh lepasnya 106 sekolah NU karena dirampas oleh dua kelompok ormas lain atas nama rezim yang berkuasa. Dan sampai sekarang pun, semua sekolah itu tidak kunjung dikembalikan kepada NU.
Beliau tidak menengok kiri-kanan atau bahkan tidak suka memperbandingkannya dengan apa yang dilakukan oleh orang lain, apalagi dengan perbuatan yang tidak baik bagi NU. Di tangan beliau, idealisme bukan sesuatu yang abstrak, bukan hayalan, tetapi sesuatu yang kongkret dan bisa diwujud-nyatakan.
Sabahat Mun'im menyebut contoh konkret pembangunan menara mencusuar NU dan sebidang tanah yang sudah diwakafkan beliau kepada NU. Sikap ini betul-betul membuat kita malu dan merasa diri tidak berarti. Apa yang beliau lakukan menjadi tidak bernilai karena beliau bukanlah orang yang bergelimang harta dan rizki, yang kemudian diwakafkan itu hanyalah hasil jualan tumbu dari kampung ke kampung?.
Meski tidak tahu banyak, tapi kita bisa membayangkan kiprah dan kontribusi tidak terhitung yang beliau berikan sepanjang hidupnya, sehingga *"api NU"* itu terpelihara di hatinya, di kalangan warga NU menemui beliau, dan di daerahnya, Pacitan.
Pelajaran yang sudah ditunjukkan secara terang benderang oleh Kyai Kampung yang mulia dan bersahaja ini; bahwa idealisme dan keswadayaan bukan omong kosong tetapi sangat mungkin dilakukan manakala didukung dengan tekad dan semangat dedikasi yang kuat.
Idealisme pendekatan kultural semacam itu bisa saja ditertawakan, atau bahkan dilecehkan oleh sementara kalangan NU, akan tetapi Mbah Umar Tumbu sudah menunjukkan dengan bukti yang tak terbantahkan. Sekaligus kita tarik pelajaran penting, bahwa strategi yang benar untuk mempertahankan dan membangun NU adalah strategi kultural seperti itu.
Dengan pendekatan itu bukan hanya NU bisa bertahan dan tetap dekat serta diterima masyarakat, akan tetapi juga membuat NU bermartabat. Martabat NU akan menjulang tinggi bagai menara mencusuar NU setinggi martabat Mbah Umar Tumbu yang membangunnya.
Mbah Umar Tumbu, mudah-mudahan apa yang panjenengan sudah contohkan itu bisa kami lanjutkan?.
Ya Allah, yang Maha Pengampun, limpahkanlah maghfiroh-Mu kepada beliau dan mohon ditempatkan di surga terbaik bersama para muassis NU. Amin, lahum *Al-Fatihah*. (tim)

posted from Bloggeroid

Selasa, 27 Desember 2016

KITAB KOPI DAN ROKOK

“MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANGKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”

Jauh sebelum MUI dan Majelis Tarjih Muhammadiyah menjatuhkan Fatwa Haram terhadap Rokok, Syeikh Ihsan bin Syeikh Muhammad Dahlan (1901-1952), Jampes, Kediri, Jawa Timur, sudah menuliskan perdebatan ulama seputar rokok dalam kitabnya “Irsyad al-Ikhwan: Fi Bayani Ahkami Syurb al-Dukhan wa al-Qahwa”. (Petunjuk Kawan: Tentang Hukum Merokok dan Meminum Kopi). Menurut Syeikh Ihsan, sejak kemunculannya di dunia Islam, rokok dan kopi memang sudah merangsang pembicaraan hangat (discourse) di kalangan ulama.

Tulisan ini akan mencoba membaca kembali kitab tersebut menggunakan kerangka pembacaan “relasi kuasa dan pengetahuan” yang diintrodusir dari Michel Foucault——salah satu filsuf pasca-strukturalis Prancis. Menurut Foucault, pengetahuan adalah kekuasaan untuk menguasai yang lain. pengetahuan menciptakan kekuasaan. Juga sebaliknya. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Namun, kekuasaan yang dimaksud di sini bukanlah semacam otoritas tunggal yang mewujud dalam bentuk kekusaan negara atau institusi. Kekuasaan bukanlah kemampuan atau kepemilikan. Setiap masa dan waktu tertentu, kata Foucault, pengetahuan tentang sesuatu selalu dipengaruhi oleh “sistem pemikiran” (episteme) tertentu yang menjuruskan cara mempraktekkan ilmu pengetahuan pada zaman tersebut.

Kerja episteme sangat halus menguasai cara berpikir orang dalam kurun waktu tertentu. Mekanisme kerja episteme bersifat diskursif. Bagaimana sebuah fenomena dikategorisasikan, didefinisikan, dan ditindaklanjuti tergantung pada tiga kompnen diskursif: disiplin ilmu, institusi, dan tokoh. Untuk menggali epiteme agar tampil ke permukaan dibutuhkan “alat” yang oleh Foucault disebut arkeologi. Melalui pelacakan jaringan kekuasaan yang melatar-belakangi (pembentukan) pengetahuan, kita akan mendapati bahwa pengetahuan tidaklah netral, bebas nilai, objektif, seperti yang selama ini diklaim ilmu pengetahuan modern (postivisme). Bahkan, dalam aras tertentu, kita dapat membongkar ideologi di balik klaim objektivitas ilmu pengetahuan tersebut. Seperti yang akan kita buktikan dan akan kita temukan pada wacana tentang (hukum) rokok. Ternyata, dalam setiap masa dan waktu tertentu persepsi tentang rokok tidaklah tunggal.

Sebelum melakukan penelusuran lebih jauh kandungan isi kitab ini, alangkah baiknya kita sajikan dulu biografi pengarang kitab ini.

Syeikh Ihsan

Salah satu ulama pesantren yang namanya sempat melambung dan diperhitungkan dunia Islam adalah Kiai Ikhsan bin Muhammad Dahlan. Ia dilahirkan pada 1901 di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo. Ayahnya, Kiai Dahlan bin Saleh, adalah seorang kiai pimpinan pesantren yang masih keturunan Syeh Syarif Hidayatullah, Cirebon, salah satu Wali Sembilan penyebar Islam di Jawa Barat. Sedangkan dari jalur neneknya, Nyai Isti’anah, Kiai Ihsan merupakan keturunan Kiai Hasan Besari, guru penyair Jawa kenamaan, Ronggowarsito.

Kiai Ihsan tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Namun, kiai yang semasa kecilnya dipanggil Bakri ini memiliki kegemaran menonton wayang dan bermain judi sembari ditemani secangkir kopi dan segepok rokok. Tak seorangpun yang dapat menghentikan dan memalingkan kegemarannya itu. Termasuk kedua orang tuanya. Hingga suatu ketika ia diajak orang tuanya berziarah ke makam Kiai Yahuda, Pacitan. Di sini Kiai Dahlan mengadu dan meminta (bertawasul) agar prilaku dan kebiasaan buruk anaknya berubah.

Selapas ziarah, malam harinya, Ihsan bermimpi ditemui seorang kakek-kakek berpakaian putih-putih membawa batu besar sambil berkata: “Ihsan, kalau kau tidak menghentikan kebiasaanmu berjudi, akan saya lemparkan batu ini ke kepalamu!”.

“Apa kepentinganmu mencampuri urusaku!” timpal Ihsan. Seketika itu juga sang kakek melempar batu itu mengenai kepala Ihsan hingga pecah. Begitu terjaga, Ihsan langsung mengucap istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Mimpi itu telah merubah kehidupan dan kebiasaan Ihsan. Sejak itu, ia mengembara menuntut ilmu dari satu kiai ke kiai lain, singgah dari pesantren satu ke pasantren lain. Ia belajar tembang dan syair (ilmu ‘arudh) di pesantren Gondang Legi, Nganjuk, belajar Gramatika Arab (nahwu-shorf) di pesantren Kiai Khalil, Bangkalan, Madura, dan belajar astronomi (falak) di pesantren Kiai Saleh Darat, Semarang.

Pergulatan dan perjumpaan Kiai Ihsan dengan kiai-kiai sepuh di beberapa pesantren melahirkan banyak karya tulis, baik yang sudah atau belum dicetak. Di antaranya, Siraj at-Thalibin, Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi al-Qahwah wa ad-Dukhan, Tasrih al-Ibarah, Manahij al-Imdad, dll.

Kitab yang sempat melambungkan namanya ke kancah dunia internasional adalah Siraj at-Thalibin, sebuah komentar (syrh) atas Minhaj al-‘Abidin-nya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali. Kitab setebal 800 halaman yang dibagi dalam dua jilid ini sempat membuat kagum Raja Faruk, penguasa Mesir waktu itu. Bayangkan, seorang Jawa yang tidak pernah mencicipi tanah Arab, tetapi sanggup membuat karya monumental dengan bahasa Arab yang baik, indah, mengalir, dan seolah-olah menyatu dengan kitab asalnya (matn).

Konon, menurut penuturan kakek saya, Abdul Hannan, yang sempat berdiskusi dan ditemui Kiai Ihsan, bahwa sebelum menulis kitab ini Kiai Ihsan berkeliling Jawa menemui ulama-ulama tasawuf, dukun, penganut mistik-kejawen, untuk berdialog dan berdiskusi seputar pesoalan-persoalan mistis guna lebih memperkaya pemahaman, pengalaman, dan pengamalan mistik-spiritualnya.

Sebelum meninggal, yaitu pada 15 September 1952, Kiai Ihsan sempat ditawari penguasa negeri para Firaun itu untuk mengajar di Universitas al-Azhar, Kairo. Namun, Kiai Ihsan menolak. Ia lebih memilih mengajar dan menghabiskan waktunya di pesantren kecil peninggalan ayahnya, Pesantren Miftahul Huda, Jampes, Kediri. Mungkin, Kiai Ihsan sadar bahwa “kecil itu indah”.

Kandungan Kitab Irsyadul Ikhwan

Di samping cerdas, berotak encer, dan memiliki segudang ide-ide cemerlang, Kiai Ihsan dikenal rajin dan tekun membaca. Buku dan kitab apapun dilahapnya habis. Kiai Ihsan termasuk produktif dan banyak menulis lintas disiplin. Bahkan, sangking produktifnya, ada yang menyebut ia memiliki ilmu laduni, yaitu ilmu yang memancar langsung dari Allah SWT, tanpa melalui usaha (kasb) dan proses belajar.

Dari tangan dinginnya ini, salah satunya, lahir kitab Irsyad al-Ikhwan yang akan kita kuliti dalam tulisan ini. Menurut sejarahnya, kitab ini ditulis untuk menjawab “sindiran” salah seorang kiai lantaran ia terlalu banyak merokok (perokok berat) dan hobi meminum kopi, yang menurut kiai tersebut hukumnya haram (kira-kira kalau sekarang adalah kiai Wahabi). Maklum, bagi kiai Ihsan, rokok dan kopi ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Irsyad al-Ikhwan merupakan komentar (syrh) atas syair (pusi) yang ditulis Kiai Ihsan sendiri yang diadaptasi dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayan al-Qahwah wa al-Dukhan yang ditulis Kiai Dahlan, Semarang, yang menjelaskan seputar rokok dan kopi. Kiai Ihsan menamai kitab syarh-nya ini agak mirip dengan kitab induknya (matn).

Kitab ini terdiri atas empat bab: bab pertama (hal. 1-9) berisi pembukaan, harapan, serta penjelasan penulisnya seputar kandungan kitab ini. Bab dua (hal. 9-19) menjelaskan tentang rokok dan kopi, sejarahnya, berikut sepintas pendapat-pendapat ulama seputar hukum keduanya.

Menurut Kiai Ihsan, pada awal-awal kemunculanya rokok (tembakau) belum dikenal dalam dunia Islam. Terbukti, misalnya, istilah tembakau sendiri bukanlah berasal dari Bahasa Arab. Ada beragam nama untuk menyebut kata ini, di antaranya “tûtûn” dan “at-tanbâk”. Istilah medis menyebutnya “banbajir”.

Tembakau pertama kali ditemukan di daerah Tabacco, Meksiko. Setelah bangsa Eropa (Colombus) menemukan kepulauan Karibia dan di sana banyak sekali tanaman tembakau, serta kebiasaan penduduknya menghisap rokok yang terbuat dari daun tembakau, orang-orang migaran Eropa membawa biji tembakau untuk dibudidayakan di Eropa. Diperkirakan hal itu terjadi pada 1518 M/930 H. Kemudian pada 1560 M/977 H rokok mulai populer dan menyebar luas di Dunia Eropa.

Begitu juga dengan kopi. Kopi baru dikenalkan pada Dunia Arab,  Asia dan Afrika pada sekitar 1600 M/1017 H.  Tentang hukum kopi, di antara ulama masih berbeda pendapat. Bab tiga (hal. 19-62) berisi penjelasan seputar pendapat beberapa ulama yang mengharamkan rokok. Sejumlah ulama seperti Syihabuddin al-Qulyubi, Ibrahim al-Luqani, Hasan al-Syarnabila, al-Tarabisyi, memilih untuk menghukumi haram. Alasannya, rokok dapat mendatangkan bahaya, pemakainya akan mudah terserang penyakit, merusak otak, dan mengganggu kesadaran. Karena itu, merokok sama dengan menyakiti diri sendiri, di mana tindakan tersebut sangat-sangat dilarang oleh agama.

Menurut al-Allamah al-Syihab al-Qulyubi, rokok menyebabkan kekebalan tubuh melemah, sehingga mudah terserang penyakit. Penyakit yang biasa menghinggapi perokok adalah penyakit Tarahil dan Tanafis. Penyakit Tarahil adalah penyakit yang menyebabkan seluruh otot kendur. Sedangkan penyakit Tanafus menyebabkan pori-pori tubuh membesar. Juga menyebabkan kepala pusing dan mabuk. Al-Laqani malah menyamakan rokok dengan kecubung dan opium. (hal. 19)

Alhasil.  Ada empat alasan ulama mengharamkan rokok. Pertama, rokok dianggap dapat membahayakan kesehatan, seperti yang banyak disinggung ahli medis. Kedua, rokok dapat “melemahkan” penggunanya. Seperti yang dikatakan Hadis Nabi SAW, bahwa beliau mencegas sesuatu yang memabukkan dan melemahkan. Rokok termasuk yang kedua. Ketiga, aroma dan asap rokok dapat mengganggu orang lain. Ini sangat dilarang agama. Bukankah banyak hasi-hadis Nabi SAW yang melarang memakan makanan yang baunya tak sedap. Menurut pendapat ini, rokok termasuk di dalamnya. Dan yang keempat lebih melihat pada asas manfaatnya. Menurut pendapat ini, rokok tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan membahayakan. Membeli rokok sama dengan membuang-buang harta.

Sedangkan Bab empat (hal. 26-41) berisi pendapat ulama yang membolehkan rokok sekaligus memuat bantahan (counter) terhadap ulama yang mengharamkannya. Bagi ulama yang membolehkan, seperti Abdul Ghani al-Nabulusi dan Ali al-Syibramilisi, pengaharam rokok tidak berdasar sama sekali, karena tidak ada satupun hadis ataupun ayat al-Quran yang secara tegas melarangnya. Menurutnya, hukum haram hanya berlaku bagi mereka yang sakit, mudah terserang penyakit, yang apabila merokok maka akan membahayakan, bahkan memperparah sakitnya.

Sementara pendapat yang mu’tamad memilih hukum makruh. Pendapat ini disinyalir oleh al-Bajuri didalam kitabnya. Menurut al-Bajuri, pendapat yang mengharamkan rokok berasal dari qaul dha’if (lemah). Pendapat al-Bajuri ini didukung Muhammad Said dan Muhammad Ibnu Musa.

Dengan demikian, status hukum yang menempel pada rokok bukan disebabkan pada dirinya sendiri, dzat rokok, melainkan oleh sesuatu yang lain (amrun kharij). Hakikatnya, rokok tidak dapat dihukumi apapun. Yang mengatakan rokok haram, beralasan bahwa rokok membahayakan, dapat mendatangkan penyakit. Sebaliknya, bagi yang membolehkan, merokok tidak membahayakan. Apalagi, tidak ada satupun dalil-dalil yang menegaskan keharamannya.

Dalam kaidah fiqh dikenal “al-Ashl baqa’u ma kaana ala ma kana” (hukum asal sesuatu tergantung pada awal penciptaannya). Ada dua pendapat soal hukum asal sesuatu. Yang pertama mengatakan bahwa asal segala sesuatu adalah boleh (al-ashlu al-ibahah), kecuali terdapat dalil-dalil (nash) yang menyatakan sebaliknya. Sedangkan yang kedua mengatakan asal segala sesuatu adalah tidak boleh (al-ashlu al-tahrim). Pendapat yang pertama lebih unggul. Uniknya, dari sekian pendapat yang ada, baik pro maupun kontra, tidak satupun yang mengungkapkan berdasarkan alasan-alasan keagamaan. Semuanya bermuara pada satu pertanyaan: apakah rokok berbahaya? Jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan status hukum rokok.

Seperti kita ketahui, ulama yang mengharamkan rokok berpegang dan didasarkan pada pertimbangan dan temuan medis: rokok berbahaya bagi kesehatan. Sementara bagi yang menolak tidak percaya begitu saja terhadap pendapat tersebut. Lantas, pertanyaannya: siapakah yang berhak menentukan bahaya-tidaknya rokok? Di sinilah peran kuasa dan kaitannya dengan pengetahuan dapat kita ketahui. Siapapun yang (dianggap) mengetahui sesuatu, maka ia berkuasa untuk menentukan sesuatu itu. Karena dokter dianggap (satu-satunya) memiliki pengetahuan tentang hal-ikhwal penyakit dan kesehatan, maka ia berhak untuk menentukan pasiennya.

Inilah zamannya ilmu medis yang dirasuki cara berpikir positivistik.  Ilmu medislah yang berkuasa menentukan rokok sebagai patologi yang merusak masa depan kehidupan manusia. Sementara pengetahuan yang lain yang tidak sejalan akan disingkirkan dan ditaruh dalam kotak. Jangan harap pengetahuan dukun atau klenik mendapat tempat atau dapat bersuara di zaman sekarang ini.

Padahal, berdasarkan data-data sejarah, dalam kurun waktu tertentu rokok tidaklah dianggap penyakit, malah dijadikan sebagai media pengobatan, bahkan sebagai perantara dunia spiritual. Di sinilihah urgensi pemikiran Foucault dalam membedah relasi kuasa dan pengetahuan. Bagaimana persepsi tentang sesuatu (wacana) dipengaruhi oleh episteme yang berlaku pada saat itu.

Sejarah (hukum) rokok Sebagaimana yang disebutkan Kiai Ihsan di atas, bahwa tembakau berasal dari benua Amerika. Menurut sejarahnya, sekitar 100 tahun SM suku-suku di sana, terutama suku Maya, Aztek, dan Indian, sudah terbiasa menggunakan rokok sebagai media pengobatan, ritual pemujaan terhadap dewa-dewa, juga sebagai pengusir roh-roh halus. Setelah Colombus menemukan benua Amerika dan membangun koloni-koloni di sana, tembakau dan kebiasaan merokok mulai dikenalkan pada masyarakat Eropa. Bibit-bibit tembakau dibudidayakan di Eropa. Tercatat, Jean Nicot adalah orang yang pertamakali mempopulerka rokok di benua Eropa. Sejak itu, rokok menjadi satu-satunya komoditas yang menguntungkan. Idustri rokok bermunculan di mana-mana.

Begitu juga dengan sejarah penemuan rokok kretek (rokok racikan tembakau dan cengkeh). Konon, sejarahnya bermula dari Haji Djamari, laki-laki asal Kudus. Djamari mengeluh karena penyakit asma yang dideritanya tak kunjung sembuh. Awalnya ia mengoleskan minyak cengkeh di dadanya. Kemudian ia mencoba-coba mencampurkan cengkeh dengan tembakau untuk dijadikan rokok. Anehnya, dengan cara itu ia bisa sembuh dari penyakitnya. Mulai saat itu, Djamari mengenalkan rokok hasil racikannya ke masyarakat.

Baru pada pertengahan abad 20 pandangan terhadap rokok mulai berubah. Rokok mulai dihubung-hubungkan dengan kesehatan. Asosiasi dokter bedah Amerika mulai melakukan kampanye bahwa rokok dapat menyebabkan kangker paru-paru. Mulai saat itu iklan rokok dilarang. Di Inggris pelarangan rokok dimulai tahun 1965, sedangkan Amerika tahun 1970. Di siniliah konstruksi tentang bahaya rokok mulai dibangun. Bermula dari penelitian medis yang menggunakan uji statistik, misalnya, sekelompok orang yang menghabiskan rokok dalam jumlah besar akan lebih mudah beresiko terkena penyakit dibanding orang yang merokok biasa saja. Uji sample ini diterapkan dan berlaku pada setiap perokok di belahan dunia manapun.

Selanjutnya, wacana rokok yang dibangun dan dikonstruksikan oleh kalangan medis pada akhirnya dipakai para ulama dalam merumuskan dan memutuskan status hukum rokok. Di sinilah antar wacana kemudian bertemu dan berbicara dalam tema yang sama. Hal ini, oleh Foucoult, disebut formasi diskursif. Dengan cara seperti inilah “kebenaran” dibangun.

Merawat keberagaman

Dalam kitabnya ini, Kiai Ihsan menyebutkan semua pendapat ulama, baik yang menghalalkan maupun yang mengharamkan rokok dan kopi, dengan argumentasi masing-masing, tanpa disembunyikan, ditutup-tutupi, apalagi dipukul rata (melakukan generalisasi). Dengan keragaman pendapat itu, Kiai Ihsan ingin menunjukkan bahwa “kebenaran” tidaklah tampil tunggal. Ia muncul dengan spektrum yang berbeda-beda. Semuanya diserahkan sepenuhnya tergantung pada pilihan, penilaian, dan persepsi pembaca (reader) untuk mengikuti qaul (pendapat) manapun.

Ternyata, pengetahuan tidak lepas dari kekuasaan yang berjalin-kelindan di antara keduanya. Saya yakin, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidaklah tunggal. Sebagaimana fatwa ini yang sesungguhnya tidak tunggal dan seragam. Mari kita rayakan perbedaan dan keragamaan itu. Wallahu a’lam bi sawab....